Peran Desainer dalam Perancangan Rumah

Oleh Iwa Misbah

Merancang dan menata interior rumah bukanlah pekerjaan  yang mudah dan ringan. Selain memerlukan pemikiran dan perencanaan yang matang menyangkut konsep, gaya (style), material, dan waktu pengerjaan. Tentunya  harus memikirkan biaya yang tidak kecil. Apalagi bila kita menghendaki penataan ruang melalui bantuan desainer interior maka alokasi biaya otomatis bertambah.

Untuk menekan biaya sekecil mungkin pemilik rumah seringkali merancang sendiri desain rumahnya. Berpedoman pada majalah-majalah, buku-buku interior, atau meniru interior pada perumahan-perumahan atau daerah pemukiman elit di kota-kota besar. Mereka meniru habis rancangan yang ada dengan sedikit menambah aksentuasi pada bagian tertentu dari rumahnya. Dengan begitu, mereka berasumsi bahwa rumah merupakan representasi dan eksperimentasi pemilik terhadap cita rasa yang dimilikinya. Dan, itu merupakan sebuah kebanggaan karena merasa telah “berperan-serta” memberikan sentuhan ide rancangan pada rumahnya.

Walaupun, apa yang mereka lakukan tidak sepenuhnya salah, tetapi amat disayangkan bahwa rumah yang dirancangnya tidak memberikan identifikasi terhadap ide yang ditampilkannya. Akibatnya rumah menjadi hunian yang miskin dari konsep estetik dan terasing dari makna ruang dan  lingkungannya.

Kini, ada anggapan dan banyak orang melakukan bahwa menata interior —rumah, apartemen, hotel dan sebagainya— cukup dengan memindah-tempatkan posisi kursi, sofa,  lemari, meja, atau mengalihkan arah posisi tempat tidur dari tempatnya semula. Tanpa memikirkan dampak dari perubahan yang dilakukan tersebut, yang mungkin saja akan menambah rumit dan semrawutnya kondisi ruangan. Peletakan taplak, penataan gelas dan cangkir di atas meja, penempatan pot atau vas bunga, serta menggantungkan foto atau lukisan pada dinding. Itu semua bukan pekerjaan yang sepenuhnya harus dilakukan oleh desainer interior, mungkin cukup seorang dekorator atau ibu-ibu rumah tangga yang hobi menghias dan mengatur rumahnya saja yang melakukannya.

Desainer atau perancang interior mempunyai tugas yang tidak ringan. Dia dituntut bukan hanya untuk mempertanggung-jawabkan apa yang dibuatnya terhadap rancangan hasil karyanya, tetapi diharapkan memberikan kontribusi yang bermanfaat bagi lingkungan sekitarnya. Tanggung jawab moral dan profesional merupakan sebuah bukti konkrit dari kredibilitas seorang desainer.

Malahan, untuk proyek berskala besar baik rumah maupun bangunan lainnya, desainer interior tidak mungkin bekerja sendirian, senantiasa harus berkolaborasi dengan berbagai disiplin ilmu seperti arsitek, landskap, sipil, desain produk, kontraktor furnitur, dan seterusnya. Hal ini dilakukan, selain untuk mengukuhkan peran sentralnya pada profesi masing-masing yang digelutinya, juga menghindari kesalahan yang mungkin terjadi bila dilakukan bukan oleh ahlinya. Beragamnya disiplin ilmu dalam merencanakan sebuah proyek bangunan, telah memberikan pengayaan pengalaman dan profesionalitas yang amat signifikan bagi masing-masing pelakunya.

Oleh karena itu, desainer interior harus mempertimbangkan berbagai aspek  menyangkut lahan pekerjaannya, sungguhpun tidak harus secara detil memahaminya, tapi minimal mengerti secara umum apa yang dihadapi. Pertimbangan ini menurut George G. Beakley meliputi pertimbangan bahan, fungsi, keefektifan lingkungan dimana desain tersebut difungsikan serta akibatnya terhadap manusia.

Penting untuk diketahui, bahwa pertimbangan ini akan saling bersinggungan secara teknis dan praksis dengan bidang lainnya tatkala sudah sampai pada tahap operasional. Mengapa demikian? Karena ketika merencanakan satu ruang tamu saja, kita dihadapkan pada berbagai persoalan yang kompleks menyangkut pemahaman seperti: desain tekstil, lantai, karpet, kursi, lampu, konstruksi, dan sebagainya. Atau sebuah contoh kecil dalam merancang sebuah sofa, kita harus memahami permasalahan tentang material seperti: kayu, busa (foam), kain (textile), pipa besi, dan aksesoriesnya. Termasuk beberapa standar berskala internasional mengenai spesifikasi yang dikehendaki konsumen menyangkut keamanan, kesehatan, dan lingkungan yang harus diikuti dan dimengerti dengan baik, sehingga produk yang dihasilkan bisa diterima di seluruh dunia. Belum lagi, bila sudah masuk pada tahapan produksi masal, tidak boleh tidak kita harus bekerjasama dengan beberapa bagian terkait seperti, produksi, quality control (QC), Planning Production and Inventory Control (PPIC), gudang (warehouse),  dan sebagainya.

Hanya saja, idealisme dan kreativitas si perancang kadangkala menihilkan berbagai pertimbangan itu, akibatnya selain berdampak buruk terhadap desain yang dihasilkan, juga bisa merugikan si perancang sendiri, konsumen dan lingkungan sekitarnya.

Tanggungjawab desainer

Tugas dan kewajiban utama seorang desainer interior menjembatani kepentingan subyektif klien, dengan mempertimbangkan masukan ide-ide yang berhubungan dengan perencanaan yang akan dikerjakannya. Kemampuan dan kreativitas desainer interior memegang peran penting dalam “mengakomodir” titik temu antara ide yang dilontarkan dengan harapan klien. Bagaimana caranya menembus benteng subyektif klien sehigga bisa diterimanya ide desain? Hanya desainer interior yang sudah benar-benar matang yang bisa melakukannya dengan baik. Melalui pengalaman dan interaksi dengan berbagai kalangan serta jam terbang yang tinggi, maka akan mampu mendobrak kebekuan ide serta cepat memahami  keinginan konsumen dan bisa membidik pemecahan desain dari berbagai sudut pandang.

Dalam merencanakan sebuah rumah, seorang desainer  selain memberikan ide juga harus memberikan solusi yang cerdas terhadap penataan ruang. Bagaimana menata rumah tipe kecil dengan segala keterbatasannya, tentunya berbeda penanganannya bila merancang rumah yang besar dan mewah. Untuk itu, desainer harus memberikan pengolahan (treatment) maksimal terhadap segala sesuatu yang berada didalam ruang seperti dinding, lantai, plafon, furnitur, dan aksesoriesnya. Tidak lupa untuk tetap mempertimbangkan aspek fungsi, bentuk dan estetik.

Mengingat pengolahan ruang berkaitan dengan material yang dipakai maka memahami karakteristik material dan manfaatnya bagi perencanaan ruang amat diperlukan. Pengetahuan terhadap bahan —produk lama maupun baru— dan kelebihan-kelebihannya setali tiga uang dengan pemahaman tentang gaya-gaya desain yang sedang berkembang.

Penting juga diketahui jenis furnitur yang ingin dipajang serta warna yang akan ditampilkan, mengingat bahwa elemen pendukung interior amat memegang peranan penting terciptanya kekompakan dan keharmonisan ruang.

Data-data yang akurat yang dimiliki desainer interior merupakan modal yang akan mempermudah menelorkan ide-ide perencanaan terhadap konsumen atau klien. Pengumpulan data-data  yang diperlukan menyangkut fasilitas, dimensi, psikologi, dan konsepsi ruang seyogyanya dilakukan seawal mungkin. Penguasaan terhadap data yang dimiliki dan cara menyelesaikan masalah dari data-data yang muncul menjadi cara yang ampuh untuk mencapai keberhasilan perencanaan.

Desainer yang bijak senantiasa melakukan survey dan studi kelayakan sebelum menentukan perencanaan yang diminta konsumen. Survey bertujuan mengetahui secara detail keinginan penghuni rumah serta meneliti kondisi lingkungan dimana rumah tersebut akan dibangun. Mempelajari kontur tanah, luas tanah, lokasi lingkungan yang akan dibangun, serta mengamati saluran air yang ada di sekitarnya menjadi pegangan yang amat bermanfaat, selain membantu memudahkan penataan lingkungan dengan baik juga menghindari terjadi kesalahan perencanaan sekecil apapun. Walaupun terjadi perubahan atau kesalahan yang  diminta klien terhadap proposal yang diajukan biasanya tidak terlalu besar dan bukan masalah yang prinsipil. Intinya desainer interior harus membangkitkan rancangan yang bisa menghadirkan kenyamanan, kesehatan, dan keamanan terhadap penghuninya serta meningkatkan kualitas lingkungan ruang tempat manusia tinggal.

Karya desain yang berhasil

Ada empat hal penting yang perlu dipertimbangkan untuk menilai bahwa rancangan yang dibuat desainer bisa disebut berhasil, pertama, konsep perancangan yang baik berhubungan erat dengan tema dan gaya yang diusung oleh si desainer tersebut. Rumah tradisional Sunda  yang mempunyai konsep menyatu dengan alam hendaknya menghadirkan citra budaya Sunda, seperti memunculkan rumah panggung pada sebagian ruang yang ada di rumah kita. Atau menampilkan bentuk kolam dengan gemericik airnya, yang mengingatkan orang pada suasana perkampungan di Priangan. Kedua, mengangkat sebuah tema tidak terlepas dari material yang digunakan. Rumah bergaya moderen yang berkonotasi  simple, kaku, universal, dan tidak rumit dengan ornamen, tentunya harus menggunakan bahan yang sesuai idiom moderen, seperti pemakaian material pabrikan, stainlessteel, kaca, alumunium, plastik, dan seterusnya. Sungguhpun menggunakan material alam dan tradisional tetapi harus diolah sehingga mampu menghilangkan kesan tradisional dan tetap menghadirkan kemoderenan.

Ketiga, desainer harus mampu menerjemahkan keinginan klien dengan segala minat dan perbedaan psikologisnya. Pengetahuan yang mendalam terhadap klien mengenai rancangan yang diinginkannya, dengan memahami tingkat pendidikan, hobi, latar belakang, jenis pekerjaan, dan obsesinya terhadap interior rumah harus menjadi pertimbangan penting. Bagaimanapun kepentingan subyektif klien tidak bisa diremehkan karena akan menentukan keberhasilan sebuah rancangan..

Keempat, desainer harus mampu memberikan makna terhadap rancangannya, artinya karya yang disodorkan terhadap klien bisa ditafsirkan dengan mudah oleh penikmatnya. Desain rumah yang bagus dan mewah dengan pernak-pernik tidak akan bermakna sama sekali bila tidak disertai dengan filosofi ruang yang dihasilkannnya. Tidak masalah bila penafsiran yang muncul ke permukaan bermakna ganda (plural) yang dipahami berbeda dari maksud  rancangan yang kita inginkan, karena perbedaan pemaknaan terhadap hasil rancangan yang kita buat menguntungkan terhadap perkembangan desain yang kita usung tersebut. Pada umumnya karya desain bersifat ambigu kadangkala banyak peluang bagi spekulasi subyektif untuk berperan menafsirkannya. Sejatinya ambiguitas dalam karya desain sering tidak dapat dielakan.

Harus dipahami bahwa keberhasilan sebuah karya desain tidak terbatas pada decak-kagumnya setiap orang yang melihat tampilan visual interior rumah dengan segala perangkatnya. Keindahan dari hasil rancangan yang dibuat belum tentu menyiratkan keberhasilan sebuah rancangan seorang desainer, jika karya tersebut tidak mengandung makna pragmatisme terhadap desain yang dihasilkannya. Dan karya desain  dikatakan gagal bilamana rancangannya tidak sesuai antara bentuk dengan fungsinya.

Kepuasan klien terhadap rancangan yang kita buat tidak boleh menjadikan kita berpuas diri. Walaupun kepuasan telah menjadi pijakan kesuksesan dalam mengimplementasikan keinginan klien kedalam bentuk rancangan rumahnya. Tapi itu baru lompatan awal dari sebuah proses perencanaan yang amat kompleks. Karya desain sebagai ajang transformasi komunikasi antara pembuat dan konsumen akan terus hidup dan tidak akan pernah mati sepanjang rancangan  tesebut ada dan tetap memenuhi emosi subjektif penikmatnya.

Desainer interior dituntut bekerja keras memberikan pencerahan terhadap fungsi desain yang dirancangnya, dan harus terus mengembangkan segudang kemampuan mereduksi segala problem masyarakat untuk menghasilkan karya desain yang sesuai dan diminati konsumen. Hanya perlu diingat, ide-ide desain tidak harus ditumpahkan dalam satu wajan yang sama, perlu dipertimbangkan untuk menghentikan menumpahkannya kedalam wajan sebelum terisi penuh.

Iwa Misbah Praktisi dan pengamat desain

Kategori:Uncategorized
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: