Menghadirkan Keindahan Karpet

Oleh Iwa Misbah

Sejarah karpet dimulai pada abad 4 – 5 SM, dengan ditemukannya sejenis karpet pada bantalan punggung kuda yang terbenam di pegunungan Altai, Siberia. Dari sanalah mulanya karpet berkembang dan menyebar ke negara Turki, Iran, India, sampai dataran China.

Karpet atau permadani didalam khasanah bahasa Indonesia, mempunyai pengertian yang sama. Seringkali untuk menghadirkan keanggunan dan kemewahan yang lebih pada sebuah ruang, maka lantai yang sudah bermotif sekalipun diletakan karpet dengan warna dan motif yang senada. Atau merancang khusus karpet yang mengadopsi motif pada hiasan yang disesuaikan dengan tema ruang yang kita inginkan.            Sebagian besar hotel dan apartemen di kota–kota besar di Indonesia menggunakan karpet yang ekslusif sebagai penghias lantainya, dengan motif  yang disesuaikan konsep bangunan tersebut. Bangunan  moderen menampilkan karpet dengan motif yang sederhana dan tidak rumit, dengan garis-garis geometri  yang tegas disertai perpaduan warna-warna pastel. Bangunan tradisional tentunya menghadirkan karpet dengan motif yang diambil dari ornamen khas daerah yang menyiratkan nilai-nilai luhur budaya daerah tersebut. Dan, tidak sedikit yang menggabungkan (ecletism) diantara dua kutub budaya yang berbeda menjadi satu bentuk baru yang lebih menawan.

Dan, bentuk motif trasidional di Indonesia lebih mengarah pada ornamen tumbuhan atau binatang, selain abstraksi dari manusia. Sayangnya belum ada eksploitasi yang komprehensif untuk memunculkan desain karpet  khas Indonesia yang mempunyai ciri dan identitas Indonesia secara umum. Tetapi, kita patut berharap pada sebagian daerah yang telah memunculkan jenis ornamen khas budayanya seperti di Papua, dengan kekayaan motif hiasnya yang luar biasa, telah dicoba beberapa desain karpet yang menampilkan motif Sentani, dimana kental dengan filosofi upacara adat serta hidup keseharian mereka. Bilamana terus dikembangkan dengan etnik lainnya, bukan tidak mungkin negeri ini akan menjadi pusat dan perkembangan karpet yang terdepan di dunia.

Karpet dan fungsinya

Fungsi karpet bukan hanya penutup lantai semata, tapi memberikan perlindungan  terhadap jatuhnya benda-benda keras ke atas lantai kayu (parqute), keramik, atau marmer serta sekaligus memberikan  hiasan yang berbeda antar fungsi ruang di dalam sebuah bangunan. Sungguhpun lantai telah diolah dengan dekorasi yang memadai dari marmer atau keramik yang digunakan, tapi adakalanya dengan penggunaan karpet pada salah satu bagiannya menambah kecantikan dan keindahan ruang. Apalagi bila karpet yang menghias ruang mempunyai motif yang senada dengan ornamen dinding maupun atap, praktis akan menambah keagungan  dan keintiman ruang. Ruang seolah-olah bertenaga dan hidup.

Secara umum fungsi karpet menggiring kita pada satu pemahaman bahwa kebiasaan (habbit) keluarga Indonesia untuk menjadikan karpet satu kebutuhan yang tidak bisa dilepaskan dari aktifitas di rumah-rumah, yang akrab tanpa menggunakan kursi. Hal ini bisa dilihat pada masyarakat tradisional, duduk lesehan diatas lantai yang ditutupi tikar pada teras, ruang tamu, dan ruang makan menjadi pola yang sulit dihilangkan. Bahkan, kini lesehan digalakan di kota-kota besar untuk memunculkan romantisme budaya masa lalu yang khas Indonesia. Trotoar di sepanjang jalan Malioboro, Yogyakarta, dihiasi lesehan sebagai trademark khas daerah  yang melegenda sampai mancanegara. Kesederhanaan dan keakraban dari fungsi tikar inilah yang menjadi pengikat emosi masyarakat untuk senantiasa menyediakan tikar di rumahnya.

Kedua, masyarakat tradisional Indonesia dengan keterbatasan lahan, berusaha mengefektifkan ruang dengan menghilangkan fungsi kursi, sofa, atau furnitur lainnya sehingga kapasitas ruang menjadi bertambah. Akibatnya  selain memberikan kesan ruang menjadi luas juga mendorong menciptakan keakraban yang lebih merata diantara penghuni rumah. Sehigga amat wajar, bila rumah-rumah kecil justru menghindari sebanyak mungkin pemakaian kursi atau sofa dan lebih mengedepankan pemakaian karpet ini. Selain dipergunakan pengganti tikar pada acara-acara tertentu, biasanya gelaran karpet menjadi alternatif untuk tidur diruang tamu atau ruang keluarga, bila kebetulan rumah kita sedang banyak tamu dan kamar tidur tidak mampu menampung seluruh penghuni rumah.

Ketiga, karpet menjadi pengikat antara elemen interior, kekosongan pada dinding dan kehampaan pada plafon tertutupi andaikata pada lantai digunakan karpet. Sulit rasanya menciptakan suasana ruang tanpa salah satu dari ketiga unsur ini dihadirkan eksistensinya. Kita ketahui bahwa kesinambungan bentuk akan tampak tatkala ketiga unsur ini diberi sentuhan sesuai tema yang kita inginkan. Kehadiran karpet pada rumah kita menjadi hiasan alternatif ketika ornamen pada dinding tidak memberikan tampilan yang maksimal. Oleh karena itu seringkali karpet dengan motif yang unik ditempelkan pada dinding atau penutup meja.

Keempat, sungguhpun kursi tersedia di ruang tamu atau ruang keluarga, terasa tidak lengkap bila karpet tidak tampak menyertainya. Kursi atau sofa terasa keberadaannya andai disekitar ruang tersebut dihadirkan karpet di bawahnya. Karpet menjadi aksen pengikat dari komponen kursi dan meja di rumah kita.

Dewasa ini, karpet merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari elemen interior bangunan sebagaimana yang dikatakan oleh Edgar Allan Poe bahwa ruang tanpa karpet serasa ruang tanpa jiwa. Jadi, karpet berperan penting memberikan roh terhadap ruang yang kita tempati. Karpet memberikan kenyamanan terhadap orang yang menginjaknya dan secara keseluruhan menciptakan kehangatan dan kesempurnaan ruang. Kehangatan hotel terpancar dari karpet yang hadir di setiap sudutnya. Ruang bioskop selain terlihat megah dengan dominasi karpet yang mengitarinya, juga sebagai peredam suara  terhadap efek audio yang dihasilkan dari filem-filem yang diputarnya.

Karpet merah yang selalu digelar setiap acara Oscar atau upacara kenegaraan di berbagai negara membuktikan keberadaannya sebagai sesuatu yang amat berharga bagi sebuah peradaban.

Penting untuk diketahui bahwa karpet amat kental digunakan pada ritual ibadah dalam Islam, yang biasa dipakai di rumah maupun mesjid-mesjid. Kita akrab menyebutnya dengan sajadah. Pada awalnya sajadah dibuat dari kulit kambing, domba, atau onta yang disamak untuk menghasilkan permukaaan yang halus. Selanjutnya sajadah dibuat dengan teknik tenun. Melalui teknik tenun inilah perkembangan karpet begitu pesat, selain proses pembuatannya murah dan mudah juga bisa dibuat dengan motif hias yang menarik dan beragam.

Biasanya yang ditenun diatas sajadah adalah motif hias dari deformasi tumbuhan, bunga-bungaan, bulan dan bintang. Makna motif hias ini mengilustrasikan keindahan taman surga. Disertai dengan lengkungan kubah pada pusat sasaran orang bersujud, yang menggambarkan rancangan unik seolah-olah mengarahkan pada titik sasaran  penghormatan Kabah di Mekkah. Selain itu, sajadah juga meghadirkan motif dan desain mengikuti nuansa yang ada pada bangunan  arsitektur mesjid tersebut. Sehingga sering didapatkan hiasan pada karpet senada dengan hiasan dinding atau bagian atas mihrab.

Perkembangan karpet di Timur Tengah lebih maju dibandingkan negara-negara di belahan dunia lain, hal ini tidak bisa dilepaskan dari keterikatan fungsi yang melatar-belakanginya. Selain memang diperlukan untuk pengisi ruang dan penghias rumah, juga secara tradisional digunakan sebagai alat pelengkap ibadah ritual masyarakatnya.

Tidak terkecuali, di Eropa dan Amerika yang relatif terbelakang dalam pengembangan desain karpet ini, tetapi telah mendahului eksplorasi desain dan motif karpet menjadi sebuah pencarian identitas bangsanya. Antusiasme negara-negara di Eropa dan Amerika  terhadap perkembangan  karpet tidak bisa dipungkiri menjadi ajang peningkatan desain dan kualitas dari karpet tersebut, walaupun desainnya berbeda dengan berbagai negara di Asia tapi negara-negara tersebut telah mencerap inti dan roh dari karpet tersebut untuk dikembangkan dan diimplementasikan  kedalam budaya dan kebiasaan mereka.

Di Indonesia terutama daerah dengan latar belakang budaya Islam,  walaupun tidak secara khusus menggunakan karpet sebagai penutup lantai atau alas ibadah, tapi jelas menggunakan perangkat sejenis yang berfungsi sama. Tikar. Benda ini pada awalnya dibuat dari daun pandan yang dijalin menjadi satu kesatuan yang utuh. Motif hias yang digunakan biasanya bentuk hewan, tumbuhan, dan ornamen tradisional yang menyiratkan daerah dimana tikar dibuat. Perkembangan teknologi telah mengganti fungsi daun pandan dengan plastik. Melalui teknik cetak maka didapatkan bentuk dan desain tikar plastik yang beragam dan beraneka warna.

Kini, tikar pandan maupun plastik terkonsentrasi di pedesaan, sedangkan   diperkotaan lebih cenderung menggunakan karpet sebagai penggantinya. Mengingat daya tahan karpet relatif lebih kuat, lebih nyaman, dan lebih empuk. Malahan pada sebagian mesjid besar di Indonesia digunakan karpet tebal yang begitu lembut sehingga mendorong setiap orang yang bersolat diatasnya lebih khusyu dan nyaman.

Seiring dengan perkembangan teknologi dan penemuan mutakhir material pembuat karpet, maka dewasa ini telah hadir berbagai jenis tipe karpet yang terbuat dari karet, plastik, polyester, busa (sponge), dan sebagainya. Karpet tersebut bisa didapatkan di toko-toko dengan harga yang kompetitif, tetapi tidak kalah dari motif dan kekuatannya.

Sehingga, kedepan diharapkan penemuan motif-motif hias yang lebih variatif, dengan bahan alternatif yang lebih ramah lingkungan sehingga bisa dilahirkan berbagai corak karpet yang lebih beragam.

Iwa Misbah Praktisi dan pengamat desain

Kategori:Uncategorized
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: