Pesona Rumah Islami

Oleh Iwa Misbah

Dewasa ini rumah rumah telah menjadi investasi  yang penting. Rumah yang kita miliki menjadi aset yang amat berharga  bagi diri dan keluarga kita. Oleh karena itu wajar bila kita memperlakukan rumah  dengan perhatian yang amat berlebihan.  Penataan ruang diatur  sedemikian rupa untuk menciptakan  suasana yang nyaman. Tata letak perangkat  furnitur dirancang  dengan detil dan rinci.

Tidak sedikit yang menggunakan jasa desainer interior untuk merancang rumah yang disesuaikan dengan selera penghuninya.  Pencahayaan diolah supaya menghasilkan penerangan yang sempurna. Sirkulasi udara diatur dengan  baik, untuk  mendapatkan suasana segar setiap hari.  Tak ketinggalan, menjaga kebersihan dan kerapihan ruangan rumah yang kita tempati dengan menyapu dan mengepelnya secara rutin.

Menghias atau mendekor  rumah dilakukan dengan menempelkan lukisan atau foto pada dinding di sekeliling rumah. Menyimpan pernak-pernik diatas lemari rendah (credenza), dan menata tumpukan buku didalam rak-rak yang dirancang sesuai ruang.

Seiring meningkatnya semangat keberagamaan pada sebagian besar kelompok masyarakat, tak terelakan spirit tersebut merambah juga pada konsep arsitektur dan interior, terutama rumah tinggal yang menjadi garda depan penonjolan citra religius seseorang.

Hal ini, direspon dengan gegap gempita oleh  kalangan yang bergiat di bidang perumahan untuk mengakomodir hasrat keberagamaan ini. Mereka memanfaatkan momentum tersebut dengan menyediakan dan membuat rumah-rumah bernuansa Islam, dimulai dari penamaan kompleks perumahan, misalnya Vila Ilhami, Islamic Village, Nuansa Sakinah, Bukit Amanah, dan sebagainya. Lalu, membuat gerbang masuk perumahan dengan hiasan yang bernuansa Islami, motif geometris atau abstrak. Malahan untuk melekatkan image keberagamaan yang lebih kental, dibuatlah tempat ibadah pada masing-masing blok perumahan tersebut, salahsatunya mesjid.

Timbul pertanyaan, apakah dengan mencantumkan atribut-atribut tersebut, telah menghadirkan dimensi rumah Islam? Bagaimana menilai dan menyiasati rumah kita yang jelas-jelas tidak berada di lingkungan “perumahan Islami”?

Konsep desain Islam

Dengan berlandaskan pada konsep Islam —asal kata saalam/aslama— yang berarti damai (peace), maka menjadi pijakan awal untuk memulai menciptakan ruang rumah kita menjadi tempat Islami. Kedamaian menjelma tatkala kita sebagai pribadi mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Rumah yang damai artinya rumah yang dirancang secara matang, baik dari bangunan arsitektur, gaya (style), material yang digunakan, maupun interior ruang yang akan dihuni ditata sesuai psikologis penghuninya.

Pekarangan yang hijau dengan penataan taman yang baik, menciptakan suasana tenang bagi lingkungannya dan menimbulkan kesegaran yang menyelusup kedalam relung ruang rumah kita. Pancaran sinar matahari yang tidak secara langsung menjangkau bagian dalam  rumah, karena di batasi oleh rimbunnya pohon di halaman, menambah keasrian dan kedamaian hidup.

Lalu, keteraturan dalam penataan ruang secara sugestif bisa mempengaruhi kondisi kejiwaan penghuni rumah. Sebagaimana keteraturan yang dihadirkan oleh perjalanan planet, bulan, bintang, bumi, matahari, serta berbagai galaksi yang ada di alam semesta ini. Keteraturan yang tidak menimbulkan kekacauan (chaos). Keteraturan alam kosmos yang mengajak pada kontemplasi holistik umat manusia terhadap Penciptanya.

Ilustrasi keteraturan alam semesta diterjemahkan dalam bentuk denah pada penataan ruang bangunan. Komposisi denah ruang rumah didesain dengan berlandaskan pada konsep atau tema yang kita inginkan. Berarti pengaturan ruang dikembangkan mengikuti kaidah yang tidak menyalahi norma agama. Sebagaimana denah (lay-out) rumah tradisional Arab yang memisahkan domain laki-laki dengan domain perempuan, mengingat bahwa pertemuan lain jender dalam satu ruang menyalahi etika moral dan budayanya. Tetapi, apakah kaidah tersebut harus diterapkan dalam perkembangan desain modern dewasa ini, dimana interaksi lintas jender terjadi bukan hanya di rumah, bisa di kantor, apartemen, mal dan sebagainya. Tentu tidak harus! Pendekatannya dengan menempatkan denah pada pengertian yang tepat, sebagaimana pernyataan yang dikemukakan oleh Julien Guedet (Ruang dalam Arsitektur, Cornelis van de Ven, 1995), bahwa denah adalah hakekat komposisi, dimana keindahan dan kegunaan harus saling mendamaikan.

Pengaturan yang harmonis antar ruang yang dirancang dengan  memperhatikan fungsi dari masing-masing ruang, mengantar pada komposisi ruang mengalir dengan sempurna sehingga penghuni rumah bisa menjangkau setiap sudut ruang  dengan cepat dan mudah. Berarti keteraturan ruang didalam suatu bangunan mengintegrasikan berbagai sudut kepentingan pemiliknya, untuk mendapatkan suasana yang nyaman dan menyenangkan.

Selanjutnya, mengadopsi konsep ketertiban (hayah) Mohammed Sharief (President of The Rhode Island Islamic Society, Muslim Heritage Council, 1999), yang menekankan ketertiban dalam seluruh aktivitas hidup manusia. Tertib dalam berbicara, berpakaian, bertindak, berlalu-lintas, dan sebagainya. Begitupun dalam penataan interior rumah haruslah berpijak pada ketertiban. Tertib menempatkan kursi, sofa, meja, lemari, dan furniture lainnya pada tempat yang tepat dengan fungsi ruang. Menempatkan dengan cermat pernak-pernik hiasan di atas tempat yang tepat. Menggantungkan atau menempelkan lukisan, poster, foto, dan hiasan lainnya pada dinding sesuai dengan ruang yang ditempatinya.

Tidak pada tempatnya menggantungkan foto seronok pada ruang publik yang biasa dilalui banyak orang. Lukisan kaligrafi —walaupun indah— tidak sepantasnya digantung pada kamar mandi atau dapur kita. Menempatkan lukisan bunga atau buah-buahan di ruang makan, selain memunculkan selera makan, sekaligus menambah keindahan dan keasrian ruang tersebut. Keindahan akan hadir tatkala kita dengan tertib bertindak cermat mengikuti keinginan hati nurani yang dibatasi oleh aturan normatif.

Satu hal penting yang sering dilupakan oleh praktisi, kontraktor, dan pengembang dalam penataan ruang adalah kurangnya pemahaman terhadap fungsi arah ruang pada rumah yang dirancangnya, terutama arah kiblat. Kiblat atau Ka’bah sebagai titik pusat (centre point) dari seluruh ibadah ritual umat Islam.  Sebagaimana fengsui yang berperan penting dalam penataan arah ruang pada bangunan-bangunan umum, maka arah kiblat-pun menjadi     pijakan alternatif dalam mengatur arah dan fungsi ruang, yang akan menunjang secara signifikan terciptanya suasana Islam.

Dapat dikemukakan di sini, bahwa pada pengaturan kamar mandi,  arah atau posisi closet diutamakan menghadap selain arah Barat (baca: kiblat), karena tatkala seseorang buang air kecil atau air besar dimakruhkan menghadap kiblat. Sebaliknya tempat tidur, diharapkan mengarah ke Barat dengan tujuan supaya arah kepala menghadap kiblat tatkala kita tidur, sekaligus menghindari kaki mengarah ke kiblat. Kaidah agama menyebutnya  sesuatu yang tidak etis.

Dengan catatan, sepanjang pengaturan closet maupun kamar tidur, dan tempat lainnya tidak mengganggu ruang dan sirkulasi yang ada. Bilamana tidak memungkinkan karena ruangnya amat minim, maka bukan sesuatu yang terlarang jika kita mengedepankan efektivitas dan efisiensi ruang. Yang penting bisa menghadirkan suasana yang nyaman  dan bersih itu amat dihargai, dan sudah cukup.

Tidak bisa dilupakan bahwa pencahayaan alami maupun buatan menjadi penambah nuansa Islam, bila kita mampu mengolah dan mengaturnya dengan baik. Cahaya berasal dari bahasa Arab, Nur. Cahaya sebagai efek transendental dari eksistensi Tuhan. Sebagaimana filsafat Agustinus mengatakan bahwa cahaya alami adalah manifestasi Tuhan yang paling nyata. Oleh karena itu ruang rumah kita mesti didesain sedemikian rupa sehingga sinar matahari bisa masuk langsung secara maksimal dan bisa menghadirkan pencahayaan yang eksotis didalam rumah kita, berupa efek dekoratif bayangan yang dipantulkan dari benda-benda yang diterpa sinar matahari tersebut.

Penataan cahaya melalui penempatan titik-titik lampu yang tepat, mampu menolong terciptanya nuansa keluasan dan keagungan ruang. Cahaya lampu yang teduh dan syahdu, yang ditempatkan di sudut-sudut ruang yang strategis, menambah kekhusyuan ruang yang kita tempati.

Satu hal lagi, air yang berfungsi membersihkan jiwa dan raga kita. Melalui air wudlu jiwa kita tercerahkan. Air seperti juga cermin mereflesikan bentuk dan raga arsitektur bangunan rumah, sehingga mampu menghadirkan lukisan alam yang mendukung pesona rumah Islam.

Untuk itu, pada sebagian rumah dirancang secara khusus miniatur tempat ibadah, mushala. Biasanya ditempatkan  di belakang rumah yang didesain seperti rumah panggung tropis, dibuat diatas kolam  dengan dibawahnya dihiasi bunga-bunga yang bergemericik air,  mencirikan ketenangan dan kedamaian hidup.

Kini, tepat kiranya kita memulai menghadirkan rumah pesona Islam, dimanapun rumah kita berada, dengan nawaitu membersihkan diri dan lingkungan kita dari berbagai aspek yang akan merongrong terciptanya kesucian sebuah rumah. Sungguhpun rumah kita telah dirancang mengikuti kaidah agama dengan berbagai atribut interior yang mahal, akan kehilangan  makna bila saja cara mendapatkannya melalui jalan kotor, korupsi misalnya. Sesederhana dan sekecil apapun rumah yang kita miliki, dengan penataan yang baik dan pengaturan ruang sesuai dengan fungsi yang digunakan, mampu melahirkan pesona rumah yang kita idamkan dan cita-citakan. Rumahku surga bagiku!

Iwa Misbah Praktisi dan pengamat desain

Kategori:Uncategorized
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: