Beranda > Uncategorized > Memilih Sofa dengan Bijak

Memilih Sofa dengan Bijak

Memilih Sofa dengan Bijak

Oleh Iwa Misbah

Berbicara masalah sofa maka yang terbetik dalam benak kita adalah seperangkat tempat duduk yang terdiri dari  dua,  atau tiga dudukan. Istilah dua atau tiga dudukan ini tentunya masih bisa diperdebatkan, kalau tidak mau kita katakan menyesatkan, karena istilah ini  mengisyaratkan  bahwa sofa hanya layak diduduki dua atau tiga orang yang dipisahkan oleh belahan busa dudukan (seat cushion), atau garis jahitan. Faktanya, sofa dua dudukan bisa diduduki oleh lebih dari dua orang, atau sofa tiga dudukan tidak terlalu nyaman diduduki oleh tiga orang. “Kesesatan” nyata lainnya adalah sofa ukuran tiga dudukan dibuat hanya mempunyai dua belahan dudukan yang berukuran besar. Sehingga para perancang sofa dewasa ini mulai membebaskan pemisah tersebut menjadi dudukan yang utuh, satu kesatuan yang tak terpisahkan. Dari itu semua, kita amat sulit membedakan sofa tersebut dua dudukan, atau tiga dudukan. Mengingat bahwa ukuran dalam sofa itu tidak jauh berbeda, yaitu  antara 120 cm, dan 165 cm.                                                   

Sofa sebuah kebutuhan

Pada awalnya sofa digunakan untuk pengisi interior rumah tinggal. Kini, sofa merupakan bagian penting dari penataan interior hotel, apartemen, resort, restoran dan sebagainya. Sehingga sofa yang dulu difungsikan untuk ruang  terbatas –lingkungan rumah — berkembang menjadi  konsumsi ruang publik, artinya  sasaran pengguna sofa-pun semakin luas dan  beragam. Selama ini pengadaan sofa untuk rumah tinggal, rumah susun,  dan apartemen sederhana  biasanya dilakukan dengan membeli dari showroom atau toko yang  menjual sofa secara eceran. Berbeda halnya dengan  hotel,  resort, atau perkantoran,  yang idealnya dipesan melalui perancangan khusus yang disesuaikan dengan kondisi dan fungsi ruang, sehingga penempatan (lay-out) sofa bisa disesuaikan serta  menyatu dengan konsep ruang yang direncanakan.

Selain pada pameran-pameran yang khusus menyajikan furniture sebagai barang pamernya, maka kita bisa mendapatkan sofa pada pusat-pusat pembelanjaan yang tersebar di kota-kota besar, showroom-showroom furniture, atau toko-toko mebel yang bertebaran hampir di seluruh kota di Indonesia.  Sebagai salah satu barang  pengisi interior rumah –atau tempat-tempat lainnya–, maka sofa sangat diperlukan pengadaannya. Mengapa? Pertama, karena sofa telah menjadi simbol segala aktifitas kehidupan kita didalam rumah. Sofa telah menjadi perangkat yang sering di gunakan untuk bersantai, bercengkrama, membaca, menonton TV, ngemil, dan seterusnya. Kedua, sofa telah menjadi fokus atau titik kesayangan dan kesenangan interior rumah, tatkala tamu hadir dirumah kita maka yang pertama kali mereka perhatikan dan rasakan adalah sofa yang didudukinya. Ketiga, tidak bisa dipungkiri bahwa sofa telah menjadi barang investasi yang penting dalam hubungan sosial kita, hadirnya sofa ditengah-tengah rumah, telah memberikan prestise terhadap pemiliknya. (Lihat: Gbr 1).

Harga jual sofa dipasaran sangat variatif, dari yang berharga 2 juta, 10 juta, atau 40 juta lebih. Tergantung dari merek, konstruksi rangka, jenis kain yang digunakan, serta sofa tersebut produksi import atau lokal. Lalu bagaimanakah membeli sofa yang baik diantara ribuan ruang pajang yang ada di showroom-showroom furniture? Dengan megeluarkan uang lima juta rupiah , sepuluh juta rupiah atau lebih, apakah benar kita telah memilih sofa yang terbaik? Tentunya anda sebagai konsumen harus dengan cermat dan hati-hati mengamati janji-janji yang diberikan produsen terutama menyangkut kualitas sofa. Sebagaimana pernyataan yang dikemukakan oleh Garry Hutton (interior designer dari San Francisco, California Design Library, 1997), bahwa sofa bukanlah sesuatu yang dapat dipilih secara instan, dengan ide yang samar-samar. Oleh karena itu sangat penting untuk meneliti sebelum membeli.

Kenyamanan (comfortable) dan kekuatan (durability)

Tahap paling penting, untuk menilai sebuah sofa adalah merasakan  kenyamanannya. Cara yang paling mudah untuk itu adalah dengan mendudukinya, atau menjatuhkan seluruh beban tubuh kedalam sofa, juga bermalas-malasanlah (rileks) sebagaimana anda menonton TV, maka bila sofa memberikan kenyamanan yang maksimal, kita bisa mengatakan bahwa sofa tersebut nyaman.

Sunggguhpun demikian, setiap orang mempunyai selera sendiri mengenai arti sebuah kenyamanan, tetapi secara umum kenyamanan sofa dipengaruhi oleh hal-hal berikut; dudukan yang terlalu rendah menyebabkan kesulitan orang untuk berdiri; bantalan dudukan yang terlalu lembek tidak akan mendukung posisi duduk secara benar, sehingga seringkali menyebabkan rasa sakit dipunggung atau pundak; sandaran yang terlalu rendah tidak mendukung posisi kepala, leher, dan pundak anda sehingga cepat menyebabkan rasa capek; tanganan (arm-rest) yang terlalu rendah atau terlalu tinggi akan menyebabkan rasa pegal pada tangan; bila dudukan dalam (deep) terlalu pendek akan menyulitkan orang untuk duduk secara sempurna, karena tidak seluruh tubuh bagian bawah ditopang penuh oleh dudukan sofa, akibatnya selain kaki merasa capek tubuhpun terasa sakit dan tidak rileks. Kenyamanan sebuah sofa amat terkait erat dengan dimensi atau ukuran tubuh pemakainya, sehingga perancang sofa harus mengetahui secara akurat mengenai ergonomi sebuah sofa.

Tak kalah penting untuk memperhatikan konstruksi rangkanya.  Konstruksi rangka ini akan menentukan bentuk dan umur sofa secara keseluruhan. Semakin kokoh konstruksi sofa, dan dibuat dari material terpilih (baca:berkualitas baik) tentunya akan menambah kekuatan dan daya tahan sofa tersebut. Sehingga kita harus betul-betul yakin bahwa sebelum membeli sofa, konstruksi dan kekuatan dari rangka kayu sofa tersebut kuat. Caranya adalah mendudukinya dengan menghentakkan tubuh kedalam sofa, atau mendorong/menggeser sofa diatas lantai, bila tidak terdengar bunyi apapun maka konstruksi kayu yang digunakan cukup kuat. Posisi yang paling rawan dari konstuksi sofa adalah pada tanganan, karena konstruksi tanganan ini kadangkala dibuat dengan  perkiraan “hanya” untuk beban tangan an-sich, tetapi tanganan ini seringkali diduduki dengan beban yang melebihi kapasitas dan kemampuan menahan beban maksimal.  Seringkali sofa rusak dimulai dari konstruksi tanganan ini. (LihatGbr. 2)

Kenyamanan erat pula kaitannya dengan kekenyalan (density) dari busa (poly-urethane foam), selama ini pemahaman kita terhadap fungsi busa sering diabaikan. Akibatnya sofa yang kita beli dalam waktu yang tidak terlalu lama sudah lembek atau kempes, sehingga tidak nyaman lagi untuk diduduki. Karena mungkin saja busa yang digunakan memakai kekenyalan yang rendah atau justru menggunakan busa campuran (mixed)  dari berbagai density sehingga antara sofa yang satu dengan lainnya  mempunyai kekerasan atau kekenyalan berbeda. Penting untuk diketahui bahwa semakin tinggi kekenyalan atau kekerasan busa maka semakin baik, dan sebaliknya semakin rendah kekenyalan atau kekerasan busa akan  semakin rendah kualitas sofa tersebut. Bahwa busa sangat memegang peranan  penting untuk sebuah sofa, karena bentuk dan rancangan yang ingin ditampilkan terkait erat dengan eksplorasi dari busa ini, juga berfungsi memberikan kelembutan pada keseluruhan bentuk sofa.

Sofa yang dibuat  secara masal di pabrik–pabrik besar, dipastikan menggunakan busa utuh dengan kualitas yang terjaga  standarisasinya—memakai density yang sama untuk satu sofa–. Dari sini kita bisa melihat bahwa kualitas sofa yang diproduksi oleh pabrik-pabrik sofa terkemuka tentunya akan lebih memberikan kepastian dan jaminan kualitas dari material yang digunakan, dibandingkan dengan membeli atau membuat di industri rumahan.

Desain sofa yang “alami”

Sebagian besar konsumen memutuskan untuk membeli sofa karena terobsesi oleh model atau bentuk rancangannya, serta kain pembungkusnya yang penuh corak. Walaupun terlihat glamour dan mewah dengan lengan yang melingkar secara berlebihan (over design) dan pinggiran  yang melengkung, tetapi kemewahan ini hanya hadir pada rumah yang relatif kecil atau apartemen sederhana. (Lihat Gbr. 3)  Sofa dengan proporsi yang sederhana, minimalis, jahitan yang tidak rumit akan hadir lebih harmonis dan serasi pada ruang apapun, sehingga model  sofa serta corak kain bukanlah sesuatu yang signifikan. Gaya (style) sofa tidak secara spesifik ditentukan oleh hanya bentuk lengkungan sandaran (back seat), bulat lurusnya bentuk tanganan (arm-rest), tebal tipisnya dudukan, bantal, kaki dan lain-lain. Tetapi dari besarrnya ukuran-pun telah memberikan “gaya” khasnya yang unik. “Kealamian” yang disebabkan oleh besarnya dimensi sofa, lebih memikat mata,  tidak membosankan , dan bisa bertahan dalam waktu yang lama.( Lihat Gbr. 4). Sebagaimana ungkapan yang dikemukakan oleh Diane Dorrans Saeks (California Design Library, 1997) bahwa, “bentuk sofa sebaiknya tidak menjadi perhatian yang utama, karena dari ukurannya saja sudah tergambar bentuknya dengan jelas dimata”. Sehubungan dengan ukuran sofa yang besar dan kokoh telah memunculkan gayanya tersendiri, maka lebih bijaksana untuk menghindari sofa yang terlalu ramai dengan pernak-pernik kancing, rumitnya jahitan, dihiasi lengkung pada tanganan yang seksi, rumbai yang romantis, atau bantal yang dramatis.  (Lihat: Gb. 5)

Jangan terkecoh oleh tampilan luar dari kain sofa yang senantiasa menyilaukan mata, jangan terpengaruh oleh desain yang sedang trendy, jangan terbius oleh warna dan corak kain yang artificial, serta jangan tergoda anggunnya bahan kulit yang mahal, sebab tren tersebut akan cepat berlalu, dalam rentang 2-3 tahun kedepan mungkin sudah tidak ada gaungnya lagi. Anda harus memikirkan sofa untuk jangka waktu yang lama, kalau bisa mencapai satu dekade atau mencapai ketahanan 20 tahun. (Lihat Gbr. 6).  Proses pembelian sofa memerlukan pemikiran yang panjang, untuk mencapai citarasa yang pas dengan keinginan kita maka kita dituntut untuk senantiasa mengamati perkembangan sofa pada pameran-pameran yang diselenggarakan, melihat jenis dan model sofa di showroom-showroom furniture, sering bertanya mengenai spesifikasi dan karakteristik sofa yang kita inginkan. Selain itu sangat penting mempertimbangkan untuk apa sofa itu dipergunakan, dan seberapa sering kita memanfaatkan sofa dalam kehidupan kita. Dengan memahami pertimbangan dan jawaban diatas maka akan menumbuhkan citarasa dan pilihan yang bijak terhadap sebuah sofa.

Iwa Misbah; Praktisi dan pengamat desain.

Kategori:Uncategorized
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: